MARHABAN YAA RAMADHAN 1431H.
Memuat...

Senin, 25 Januari 2010

Tadarus Al-Qur'an Memperlancar Bacaan

Lantunan suara membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an menggema di setiap sudut kota. Sebuah suasana yang tidak pernah diperoleh selain ketika bulan Ramadhan tiba. Dengan suka cita seluruh umat muslim di dunia menyambut kedatangan bulan Ramadhan, bulan penuh keberkahan dan keistimewaan.

Biasanya membaca ayat-ayat suci Al-Qura'an di bulan Ramadhan dilakukan secara bersama-sama oleh dua orang atau lebih, gunanya untuk dapat saling mengkoreksi kebenaran dari bacaan masing-masing.
Nah, kegiatan seperti itu disebut dengan tadarus Al-Qur'an. Tadarus Al-Qur'an ini sangat sering dilakukan dan ditemui setiap bulan Ramadhan tiba. Maka dari itu, setiap bulan Ramadhan banyak kita dengar senandung ayat-ayat AlQur'an bergema di setiap mesjid-mesjid.

Fitri Yuliana, siswi kelas dua SMK Swasta Perguruan Maju Binjai ini mengaku nggak pernah absen tadarus selama bulan puasa di mesjid. Yuli, biasa ia disapa mengatakan, membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an di bulan Ramadhan selain dianjurkan kepada seluruh umat muslim juga pahala yang diterima akan berlipat ganda.
"Sepengetahuan aku, di bulan Ramadhan setiap huruf yang kita baca dari ayat-ayat suci Al-Quran akan dihitung pahalanya, beda dengan di bulan-bulan lain," tutur Yuli.
Menurut Yuli, tadarus Al-Qur'an bukan hanya sekedar membaca, tapi melainkan dapat memahami isi kandungan dari ayat-ayat suci Al-Qur'an tersebut dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalo aku, selain tadarus di mesjid aku juga tadarus di rumah. Biasanya setelah aku selesai di rumah, aku selalu membaca-baca arti dari ayat-ayat Al-Qur'an yang telah aku baca sebelumnya. Setidaknya aku bisa sedikit memahami kandungan dari ayat-ayat yang udah aku baca tadi," ungkap Yuli.
Yuli menambahkan dengan tadarus Al-Qur'an banyak manfaat yang diperoleh selain mendapat pahala, juga menambah ilmu dan memperbaiki bacaan Al-Qur'an. Karena menurut Yuli, membaca Al-Qur'an tidaklah sama dengan membaca buku-buku yang lainnya.
"Membaca Al-Qur'an tidaklah mudah, tapi tidak juga sulit. Tapi yang jelas beda dengan membaca buku-buku yang lain. Kalo kita salah menyebutkan hurufnya saja, maka artinya sudah berbeda. Maka itulah gunanya tadarus, jadi bisa saling mengkoreksi satu sama lain. Untuk itu dalam kelompok tadarus setidaknya harus ada satu orang yang benar-benar mengerti tentang bacaan Al-Qur'an sebagai pembimbing," ungkap Yuli. (zulfan, Waspada Online)

Berita tentang keistimewaan bulan Ramadhan dengan menghidupkan tadarus al-Qur'an janganlah turut sirna dengan berlalunya Ramadhan. Tadarus harus tetap dihidupkan sepanjang masa, baik itu di masjid-masjid, di rumah maupun dalam keadaan safar.
Al-Qur'an adalah bacaan mulia, yang memberikan kemulyaan sepanjang orang mau membacanya, memahami isi kandungannya, dan mengamalkannya. Mari kita hidupkan tadarus al-Qur'an. (Abu Hanief/PAI 06)

Minggu, 10 Januari 2010

ISLAM BIKIN HIDUP LEBIH HIDUP

MAKNA HIDUP

Hidup memiliki makna yang sangat luas. Keluasan maknanya, menyebabkan banyak di antara manusia mencoba memaknai arti hidup berdasarkan proses perjalanan hidup yang dialaminya. Ada beragam makna hidup, diantaranya ada yang mengatakan Hidup adalah perjuangan; Hidup adalah perbuatan; Hidup adalah ibadah; Hidup adalah anugerah; Hidup adalah saling melengkapi; Hidup adalah inspirasi; Hidup adalah berkah; Hidup adalah saling memberi; Hidup adalah pilihan; Hidup adalah sebuah perlombaan; Hidup adalah panggung sandiwara, dan sebagainya.

Beragam pendapat manusia dalam memaknai arti hidup, muncul karena adanya pemicu yang bersifat fitrah dan manusiawi. Sebagaimana di antara salah satu firman Allah:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ (14)

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.S. Ali ‘Imran, 3: 14)

Di dalam kamus al-Qur’an kata الحَيُّ )hidup( ialah perasaan, naluri, gerak, dan tumbuh. الحَيُّ adalah juga salah satu dari asma’ul husna, yang artinya: Allah Yang Maha Hidup maknanya sifat yang sesuai dengan Dzat-Nya, serupa dengan sifat Maha Mengetahui, Maha Menghendaki, dan Maha Kuasa yang ada pada Allah. (QS. 2: 255)

Pengertian hidup menurut bahasa Arab adalah kebalikan dari mati (naqiidlul maut). Tanda-tanda kehidupan nampak dengan adanya kesadaran, kehendak, penginderaan, gerak, pernapasan, pertumbuhan, dan kebutuhan akan makanan. Sedang pengertian mati dalam bahasa Arab adalah kebali­kan dari hidup (naqiidlul hayah). Dalam kitab Lisanul Arab dikatakan : "Mati adalah kebalikan dari hidup." Jadi selama arti mati adalah kebalikan dari hidup, maka tanda-tanda kematian berarti merupakan kebalikan dari tanda-tanda kehidupan, yang nampak dengan hilangnya kesadaran dan kehendak, tiadanya penginderaan, gerak, dan pernapasan, serta berhentinya pertumbuhan dan kebutuhan akan makanan.


URGENSI HIDUP

Pada kolom Hikmah (Republika, Senin, 08 Sep 2003) yang berjudul Terampil Memainkan Hidup, menyatakan bahwa hidup adalah keterampilan. Ia akan memiliki makna apabila kita terampil untuk memainkannya. Seseorang akan bisa menikmati perjalanan, apabila ia terampil mengendarai kendarannya. Begitu pula, seseorang akan berbicara dengan baik apabila ia terampil memilih kata dan nada bicara yang tepat.

Untuk terampil kita membutuhkan dua hal, yaitu ilmu dan latihan. Siapa saja yang tidak mencintai dua hal ini, maka ia celaka dan mencelakakan orang lain. Masalah terbesar yang kita alami sekarang adalah tidak menguasai keterampilan untuk hidup.


BERANGKAT DARI INSPIRASI

Iklan rokok Star Mild di media televisi yang menampilkan short action bertajuk Bikin Hidup Lebih Hidup, ternyata membuat para pemirsa dari berbagai kalangan terinspirasi untuk mengadopsinya dan menjadikannya sebagai bahasa gaul/slogan dalam berbagai ivent. Yang fanatik dengan kepartaiannya, PKS mengadopsinya sebagai slogan “PKS Bikin Hidup Lebih Hidup”; Yang masuk angin lebih sregh jika dikerokin, katanya: “Kerokan bikin lebih hidup lebih hidup”; yang sedang jatuh cinta, katanya: “Cinta bikin hidup lebih hidup”; yang suka facebookan, katanya: “facebook bikin hidup lebih hidup”; yang sudah pengen nikah dan yang baru nikah, katanya: “nikah bikin hidup lebih hidup”; begitu juga yang suka tenteng laptop, yang suka berolahraga, yang hobi baca buku, hobi jalan-jalan, dll.

Dalam kajian-kajian Islami, slogan ini juga dipakai sebagai kalimat pengiring, misalnya: Al-Qur’an bikin hidup lebih hidup, Islam bikin hidup lebih hidup, Dzikir bikin hidup lebih hidup, Tadarus al-Qur’an bikin hidup lebih hidup, berjama’ah bikin hidup lebih hidup, dan ikhlas bikin hidup lebih hidup.

Seiring dengan munculnya slogan Bikin Hidup Lebih Hidup, muncul pula slogan lain, yaitu Bikin Hidup Lebih Redup. Slogan ini juga mendapatkan tempat di hati para aktifis anti narkoba tentang bahayanya asap rokok bagi kesehatan. Begitu Juga para pakar pendidikan dan neorolog yang menyatakan tentang bahayanya TV.


POHON YANG HIDUP LEBIH HIDUP

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-An’aam, 6: 99)



ISLAM BIKIN HIDUP LEBIH HIDUP

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. al-Zumar, 39: 53)

Ayat di atas mengajak kepada kita agar senantiasa selalu optimis dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Optimis untuk senantiasa menatap ke depan yang lebih baik meskipun tantangan yang akan kita hadapi cukup berat.

Maka untuk mewarnai hidup kita ini menjadi lebih hidup, marilah kita tingkatkan kualitas hidup kita dengan senantiasa berlomba-lomba untuk mengerjakan amal kebaikan dimanapun kita berada.

Dua hal yang bisa membuat hidup lebih hidup, yaitu mengenal amal dan memotivasi diri untuk mengamalkannya.


A. Mengenal Amal

Mengenal Amal, ada tiga perkara, yaitu:

1. Orang yang Berperang di Jalan Allah

Firman Allah:

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ(154)

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Q.S. al-Baqarah, 2: 154)

2. Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya

Firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (24)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal, 8: 24)

3. Beramal Shalih

Firman Allah:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ (29)

“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (Q.S. al-Ra’d, 13: 29)


B. Memotivasi Diri untuk Mengamalkannya

Motivasi menjadi penting sekali sebagai modal utama untuk beramal shalih. Beramal shalih menjadi lebih hidup kalau motivasi itu kita dasari semata-mata karena Allah, lillahi ta’ala. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ ... (5)

“Dan Tidaklah mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus,...” (Q.S. al-Bayyinah, 98: 5)

Dan hadits dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ (متفق عليه)

“Tiga hal, siapa yang ada ketiga-tiganya pada orang itu, niscaya dia akan merasakan manisnya iman : Siapa yang mencintai Allah dan Rasulnya, lebih dari yang selainnya, dan siapa yang mencintai manusia, dicintainya semata-mata karena Allah dan tidak suka (benci) kembali menjadi kafir sesudah diselamatkan Allah dari kekafiran, sebagaimana bencinya akan dilemparkan ke dalam api neraka.” (Mutafaqun ‘alaih)


Setelah kita mengetahui landasan motivasi sebagaimana dalil naqli di atas, langkah berikutnya adalah memanaj/mengolah motivasi. Ada empat langkah untuk memanaj motivasi agar menjadi hidup lebih hidup, yaitu:

1. Melakukan refleksi terhadap apa yang akan kita capai lalu menuliskannya di selembar kertas.

Untuk bisa melakukan motivasi terhadap diri kita, kita harus tahu apa tujuan yang ingin kita capai. Lalu kita harus mengembangkan perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang.
Setelah kita menuliskan tujuan kita bersama dengan rencana yang kita buat untuk mencapainya, tempelkan kertas tersebut di tempat yang akan sering kita lihat setiap saat.

2. Berhentilah menunda

Menunda-nunda adalah hal yang bisa membunuh impian kita. Juga mampu membunuh motivasi dalam diri kita sendiri. Tetapkan batas waktu untuk mencapai satu tujuan, dan berpeganglah dengan batas waktu yang kita tentukan sendiri. Dengan memiliki perasaan dikejar batas waktu, kita juga akan lebih fokus dan berusaha untuk memenuhi tujuan tersebut. Pikirkanlah batas waktu yang tepat dan tetap membuat anda nyaman dalam menjalaninya. Terburu-buru juga bukanlah hal yang baik.

3. Menghadiahi diri sendiri

Jadi cobalah untuk memberikan hadiah atau menghargai diri kita sendiri ketika kita menyelesaikan satu bagian dalam perencanaan kita untuk mencapai tujuan akhir kita. Hal ini membuat kita akan memiliki harapan untuk bisa menyelesaikan bagian-bagian berikutnya untuk memperoleh hadiah yang lebih baik.

4. Bersenang-senanglah

Cobalah untuk tidak terlalu berat memikirkan masalah dan pekerjaan. Belajarlah untuk menikmati apa yang kita lakukan setiap hari, sehingga kita bisa tetap termotivasi dan merasa antusias.


Motivasi diri sendiri memiliki keuntungan tersendiri dan juga memacu diri kita untuk bisa lebih berkembang, lebih baik, dan mengarah pada kesuksesan. Dengan memotivasi diri sendiri, berarti kita juga bisa menciptakan jalan-jalan baru untuk melangkah mencapai tujuan kita. (Abu Hanief/PAI-06)


Referensi:

- Al-Qur’an dan terjemahnya

- http://www.qurratayun.co.cc/2009/05/jadikan-hidup-lebih-hidup.html

- http://politisi.blogspot.com/2007/04/definisi-hidup-dan-mati.html

- Republika: Terampil Memainkan Hidup, Senin, 08 September 2003

- Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Kamus Al-Qur'an min Tilawah Tafsir al-Maraghi.


Jumat, 01 Januari 2010

Talim mahasiswa STAI perdana berjalan lancar

Meski sedikit telat dari waktu yang ditentukan (ba'da isya langsung), kemeriahan kuliah perdana mahasiswa STAI Al-Fatah dengan tema "Karakteristik Pendidikan Islam" yang dibawakan oleh Drs. Yakhsyallah Mansur, M.A dan dihadiri sekitar 14 muslimin dan 11 muslimat dari berbagai kalangan (mahasiswa, fityah/fatayat, tarbiyah dan balita) tetap berjalan lancar seperti yang diharapkan.
Taufiqurrahman (mahasiswa semester 7 /KPI) selaku amir majelis mengawali majelis talim yang mudah-mudahan berokah dengan bersama-sama membaca do'a awal talim. Sebagai Qori, Hasbi Ash-Shidieqy (qori dan mu'adzin Masjid At-Taqwa) melantunkan kalam Ilahi Q.S Lukman: 12-17 beserta tarjamahnya. Selanjutnya, waktu langsung diserahkan sepenuhnya kepada pemateri, Drs. Yakhsyallah Mansur, M.A.
Membawakan materi tentang pendidikan, pemateri yang dibantu oleh Pak Ikhlas (mahasiswa semester 7 PAI) sebagai operator laptop dan infocusnya, berhubung makalah belum difotokopi, mengajak kita sebagai peserta ta'lim kepada indahnya pendidikan pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang menggunakan metode Shuffah (beranda Masjid Nabawi) yang sekarang masih kokoh berdiri di Madinah, sesuai dengan tema tesisnya di Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta yang juga tentang Shuffah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Semoga kita bisa berkesempatan menziarahi tempat bersejarah ummat Islam tersebut.
Dengan berlandaskan pendidikan Ilahiyyah (Al-Qur'an dan As-Sunnah), Bebas dan bertanggung jawab, dan tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan, pemateri mengajak agar tidak mengikuti gurunya dengan tidak mengetahui asal-usulnya (tidak taqlid buta), tetapi mengkaji lebih dalam ilmu-ilmu yang bermanfaat dan tentunya ilmiah. Sehingga tidak menutup kemungkinan bila seorang murid berbeda pendapat dengan gurunya. Dan banyak pula uraian materi yang diterangka, selengkapnya silakan untuk menggandakan sendiri makalah yang disampaikan oleh pemateri perdana ini.
Waktu juga lah yang memisahkan pertemuan ta'lim perdana ini, ketika pemateri dan peserta masih sangat antusias menuntut ilmu, akhirnya dengan terpaksa harus menutup ta'lim tersebut.
Untuk minggu depan, yang menjadi pemateri adalah Pak Ikhlas dengan tema "menjadi hidup lebih hidup". Kepada yang tadi hadir dalam acara talim perdana, diharapkan mengajak rekannya untuk menghadiri talim rutin minggu depan. (why/kpi7)

Selasa, 29 Desember 2009

Soliditas BEM yang Syarat Nilai

Kata berjama'ah, pada umumnya orang mengatakan Kebersamaan. Al-Qur’an telah mensitir tentang pentingnya kebersamaan. kebersamaan pada tingkat yang paling tinggi adalah kebersamaan yang diikat oleh kesamaan aqidah, disebut juga kebersamaan hakiki. Sedangkan kebersamaan yang paling rendah adalah kebersamaan semu, dalam al-Qur'an disebutkan تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى, artinya: “Kamu mengira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah-belah." (QS. al-Hasyr: 14)

Secara bahasa, solid artinya padat, kesinambungan antar komponen, dan bersatu. Sedangkan soliditas artinya kepadatan, kekukuhan, dan kekuatan. Sedangkan secara istilah, mungkin bisa kita terjemahkan seperti bola salju, padat ke dalam dan giat keluar. BEM sebagai wadah aktifitas mahasiswa diharapkan bisa seperti bola salju yang mampu mengimplementasikan ide-idenya menjadi sebuah karya nyata yang syarat nilai. Syarat nilai artinya nilai-nilai positif yang dapat dirasakan kemanfaatannya baik oleh mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya.

Untuk mencapai soliditas BEM yang syarat nilai, sedikitnya ada lima hal, yaitu: 1)Membangun Soliditas BEM yang dilandasi oleh kebersamaan yang hakiki' 2)Agenda kerja yang jelas; 3)Dukungan dari para semua pihak (terutama mahasiswa) baik moril maupun materil; 4)Dilaksanakan dengan sepenuh hati dan tidak setengah-setengah; 5) Mengadakan evaluasi secara rutin.

Demikianlah sekelumit ulasan: Soliditas BEM yang Syarat Nilai. Insya Allah, bagi Allah itu mudah... sekiranya kita mau sungguh-sungguh melaksanakan lima hal di atas. Wallahu a'lam bishawab. (M.Ichlas/PAI-06)

Minggu, 27 Desember 2009

Ta'lim Mahasiswa STAI Al-Fatah

BEM mengundang kepada seluruh mahasiswa STAI Al-Fatah untuk mengikuti acara Ta'lim Mahasiswa pada Jumat Malam, 01 Januari 2009 di Kampus STAI Al-Fatah, pukul 20.00-21.30.

Acara ini adalah acara perdana sejak Kepengurusan BEM ditetapkan (12/9). Insya Allah yang akan mengisi sebagai pembicara adalah Ust. Yakhsyallah Mansur,M.A., dengan tema: KARAKTERISTIK TARBIYAH ISLAMIYYAH. (Abu Hanif/PAI-09)

Selasa, 22 Desember 2009

Tim Komisi Lima Tetapkan Taufik Ismail sebagai Ketua BEM

Pada Sabtu malam, 12 Desember 2009 Tim Komisi Lima sebagai Tim Komisi Pemilihan Ketua BEM (yang terdiri dari mahasiswa senior yaitu M. Tobri, M.Ikhlas, Angga Aminuddin, Sri Miati, dan Nur'aini MT) telah mengundang para mahasiswa untuk hadir pada acara Pemilihan dan Penetapan Ketua BEM 2009/2010. Pada acara tersebut, Tim Komisi Lima terlebih dahulu memilih 3 orang calon Ketua BEM, yaitu: M. Abdullah Rasyid, Taufik Ismail, dan Taufikurrahman. Kemudian dilanjutkan proses pemilihan dengan beberapa teknis cara pemilihan, yaitu pertama masing-masing memberikan orasi singkat lima menit, kemudian dibagikan kertas suara kepada para hadirin untuk memberikan pilihannya. kemudian secara tertutup Tim Komisi Lima melakukan hitungan kertas suara dan musyawarah tertutup untuk menentukan siapa yang dipilih untuk menjadi Ketua BEM 2009/2010.

Alhamdulillah, akhirnya Ketua Tim Lima yaitu Bp. Tobri menyampaikan hasil keputusannya bahwa dengan melalui beberapa pertimbangan maka diputuskan dan ditetapkan: Sdr. Taufik Ismail sebagai Ketua BEM STAI Al-Fatah 2009/2010 dengan masa jabatan selama masih berstatus sebagai mahasiswa STAI Al-Fatah, menggantikan Ketua BEM yang lama yaitu Saudara Abdul Qadir yang saat ini sudah lulus pada bulan Agustus 2009.

BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) adalah organisasi intern kemahasiswaan yang menjadi wadah kreatifitas dan intilektualitas. Bagi BEM STAI Al-Fatah adalah organisasi gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar yang berjuang secara sistematis, terarah, terpadu, dan berkesinambungan.

BEM STAI al-Fatah dengan potensi yang luas serta berbagai kekhasan yang dimilikinya menjadi tantangan bagi mahasiswanya untuk bisa mengembangkan organisasi ini. Maka menjadi syarat mutlak penguatan infrastruktur organisasi dan penyiapan kader organisasi yang berkualitas dalam kepemimpinan, manajerial organisasi dan kemampuan menjalankan program untuk menghadapi berbagai fenomena di kalangan mahasiswa dan umat.

Kami ucapkan selamat kepada Saudara Taufik Ismail sebagai Ketua BEM. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memberikan ampunan, lindungan, bimbingan, dan kemudahan dalam menjalankan amanah ini. Amin. (PAI06/Abu Hanief)